Distribusi Faktor Risiko Stunting pada Baduta di Kota Surakarta
DOI:
https://doi.org/10.57218/jkj.Vol5.Iss3.2805Kata Kunci:
baduta, faktor risiko, stunting, SurakartaAbstrak
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada baduta yang berada pada periode kritis pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi, jenis, dan faktor risiko stunting pada baduta di Kota Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder dari platform SatukanSolo milik Pemerintah Kota Surakarta. Data dikumpulkan pada Januari–Maret 2025 menggunakan teknik total sampling terhadap seluruh baduta di lima kecamatan. Variabel penelitian terdiri atas 12 faktor risiko stunting. Data dianalisis secara univariat melalui perhitungan frekuensi dan persentase serta disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil menunjukkan bahwa 70.464 dari 98.925 baduta (71,23%) memiliki faktor risiko stunting. Persentase tertinggi ditemukan di Kecamatan Jebres (73,91%), diikuti Pasar Kliwon (73,48%) dan Banjarsari (72,52%). Faktor risiko yang paling banyak ditemukan adalah tidak mendapatkan ASI eksklusif (24%), jumlah anak lebih dari dua (21%), dan belum/tidak ber-KB (20%). Kecamatan Banjarsari dan Jebres memiliki beban faktor risiko tertinggi. Disimpulkan bahwa faktor risiko stunting pada baduta di Kota Surakarta masih tinggi dan bervariasi antar kecamatan sehingga diperlukan penguatan intervensi berbasis wilayah, terutama peningkatan cakupan ASI eksklusif dan pelayanan keluarga berencana.
Referensi
Aritonang, E. A., Margawati, A., & Fithra Dieny, F. (2020). Bawah Dua Tahun (BADUTA) Sebagai Faktor Risiko Stunting. Retrieved http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/
Assaf, S., & Juan, C. (2020). Stunting and Anemia in Children from Urban Poor Environments in 28 Low and Middle-income Countries: A Meta-analysis of Demographic and Health Survey Data. Nutrients, 12(11), Article 3539. https://doi.org/10.3390/nu12113539
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2022). Pedoman Pengelolaan Program Bangga Kencana. BKKBN.
Danaei, G., Andrews, K. G., Sudfeld, C. R., Fink, G., McCoy, D. C., Peet, E., Sania, A., Smith Fawzi, M. C., Ezzati, M., & Fawzi, W. W. (2016). Risk Factors for Childhood Stunting in 137 Developing Countries: A Comparative Risk Assessment Analysis at Global, Regional, and Country Levels. PLoS Medicine, 13(11). https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002164
de Onis, M., & Branca, F. (2016). Childhood stunting: A global perspective. In Maternal and Child Nutrition, 12(Suppl. 1), 12–26. https://doi.org/10.1111/mcn.12231
Haryani, T. N., & Amelinda, A. C. (2023). Efektivitas program dapur sehat atasi stunting di Kampung Keluarga Berkualitas Srikandi Gilingan, Kota Surakarta. Jurnal Mahasiswa Wacana Publik, 3(2), , 436–447. https://doi.org/10.20961/wp.v3i2.80230
Kemenkes RI. (2021). Laporan Nasional Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Pelayanan Neonatal Esensial. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020a). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Kementerian Kesehatan Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 Dalam Angka.
Kusuma Estu Werdani, & Nabela Sugesti Kusuma Putri. (2025). Risiko Melahirkan Bayi Stunting pada Calon Pengantin di Kota Surakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 20(3).
Putri, R. L. S., Wahyudi, T., & Probowati, R. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Gatak Sukoharjo. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(3). https://doi.org/10.31004/jkt.v5i3.31015
Meilyasari, F., & Isnawati, M. (2014). Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 12 Bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Journal of Nutrition Collage, 3(2), 16–25.
Nur Farida Rahmawati, Nur Alam Fajar, & Haerawati Idris. (2020). Faktor Sosial, Ekonomi, dan Pemanfaatan Posyandu dengan Kejadian Stunting Balita Keluarga Miskin Penerima PKH di Palembang. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 17(1).
Pramono, A., Aji, A. P., & Salsabila, M. (2024). Optimalisasi Pertumbuhan Anak dan Pengentasan Stunting melalui Inovasi “Mas Danu Siab Ceting” di Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. MAJU : Indonesian Journal of Community Enpowerment, 74–82.
Pertiwi, A. N. A. M., Dwinata, I., Qurniyawati, E., & Rismayanti. (2024). Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Kabupaten Bone dan Enrekang. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 23(1), 101–110. https://doi.org/10.14710/jkli.23.1.101-110
Ramadhani, F. A., Arman, & Mutthalib, N. U. (2024). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Bua Kabupaten Luwu. Window of Public Heath Journal, 5(5), 640–653.
Rosyidah, D. U., Futuna, N. P., & Alghozi, M. H. (n.d.). Edukasi pemberian makanan pendamping pada bayi dan anak di Posyandu Balita Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Surakarta. Jurnal Pengabdian Medika.
Solar, O., & Irwin, A. (2010). A Conceptual Framework for Action on the Social Determinants of Health .
The State of Food Security and Nutrition in the World 2020. (2020). In The State of Food Security and Nutrition in the World 2020. FAO, IFAD, UNICEF, WFP and WHO. https://doi.org/10.4060/ca9692en
Tsaralatifah, R. (2020). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Kelurahan Ampel Kota Surabaya Determinants of Stunted Children Under Two Years Old in Ampel Village, Surabaya. 171–177. https://doi.org/10.2473/amnt.v4i2.2020.171-177
Wijayanti, W., Gurnarmi, G., & Hastuti, W. (2024). Program pencegahan dan penanganan stunting di Kota Surakarta . Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kesehatan.











